Home Puisi Cerpen Drama Artikel Info Catatan Kontak
Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya). Bagi Teman-Teman yang ingin karyanya ditayangkan di sini silakan email ke md.sarjana@gmail.com; bagi yang ingin langsung posting di blog ini silakan kirim alamat email ke md.sarjana@gmail.com
Klub Bisnis Internet Berorientasi Action

alam Warna Sahabat

Yazid Musyafa
Untuk anggota JAFUSY ( Jaringan Fundamentalist Sastra BOYOLALI )INDONESIA 

#1
Tak Ada Warna : Untuk sahabatku, Yazid Musyafa

Kita adalah perulangan kata
dari tumit tumit lama
Setiap pijak akan mencipta tapak yang sama

Kita adalah nama yang menganak dirahim bumi
Selama belum lahir, kasat mata matahari lah
yang mencipta kelamin

Hei, sahabat
Hidup, merupa bola resah diruncing nasib
atau bumi membuat langit tak bertempat:
Kadang di atas kadang di bawah

Jangan risau dengan kelelahan atau kegundahan, karena
disana selalu ada doa-doa yang dapat kita semai
seperti nama kita yang tak pernah dilahirkan tapi diciptakan

Sahabatku !
Aku ingin jadi bintang yang menemani bulanmu bersinar
bukan matahari yang membuatmu legam
Dan semoga tak ada jarak dan arah yang melahirkan kata:
Atas, Bawah

Aku hanya ingin lelap di kantongkantong matamu, sahabat,
agar selalu terjaga bila setiap kedua matamu mengejap
karena disitu, matamu, dan aku, tak lagi mengenal sebuah jarak

Bukankah persahabatan itu tanpa jarak? Atau warna yang membedakan?

Bangunkan aku jika aku lelap tidur, pun begitu sebaliknya.

Kota mungil 06 April 2010


#2
Karena Kita Telah Mengenal Warna: Kepada Sahabatku, Rangga Umara

Kita memang musafir yang merindu rumah, sahabat
Di jalan itu jiwa kita selalu mengerang
Saling mengisi sebagai penuang anggur ruh
Dan telah kita terima jalan itu
Berjalan di sepanjang padang kehidupan
Pada keberangkatan yang kemarau
Sebab ada yang lebih kekal, bukan?

Sahabat, telah kau masuki rumah hidupku
Karena telah kubuka pintunya untukmu
Di dalam sana, kita tersenyum
Menyentuh lemah pada kembara
Hingga setitik debu ini pun berpijar
Menyanyikan kidung sunyi yang tak pernah padam

Sahabat, telah kita pahami rahasia nama
Tak perlu lagi kita saling memanggil dalam bahasa
Tak perlu lagi kita saling mengetuk pintu
Kita sudah berdiam, bukan?
Dalam rumah yang disebut cinta
Yang senantiasa terbuka bagi bias cahaya alam gairah
Penuh harum-Nya

Tegal, 060410 17:15

Tulisan Lain:

0 comments:

Posting Komentar

 
7TQ5GW3HXHM7