Home Puisi Cerpen Drama Artikel Info Catatan Kontak
Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya). Bagi Teman-Teman yang ingin karyanya ditayangkan di sini silakan email ke md.sarjana@gmail.com; bagi yang ingin langsung posting di blog ini silakan kirim alamat email ke md.sarjana@gmail.com
Klub Bisnis Internet Berorientasi Action

Catatan Dgkumarsana Kum: ISYARAT PENYAIR

: Umbu Landu Paranggi
Hari hari sunyi dalam keramaian yang dahsyat
kesepianmu hanyalah sebuah isyarat pergumulan tak bernyawa
yang senantiasa membakar lintasnya jalan api :
semangatmu
para penyair yang semayamkan kata
dimana engkau simpan sajak-sajak, pada sekian pusara nyawa terhenti istirah: hitunglah!
mimpi mimpi yang mengental pada setiap sudut kaca jendela penuh debu
hunian kamar tak bertepi tak berisyarat di balik dinding-dinding hutanmu
yang sarat makna tak lebih ungkapnya suara suara yang senantiasa kau sembunyikan

Inikah pemukiman upacara yang engkau ciptakan
pada asap-asap yang menebar setiap generasi yang belajar memahami nurani
dunia ini perkucilan peristiwa, bung! -tak’kan terbakar oleh riwayat
akankah engkau bawa ke tepian juga
setiap generasi tetap tumbuh darimana datangnya igaumu
setiap generasi jadi tanda-tanda darimana kau rangkai sikap
belajar memahami kemiskinan
kucuri katamu
kutikam bahasamu
kucuri lidahmu
tertikam membahana filsafat yang lelap tidur dalam kesunyian falsafi
berselimut dalam bantal yang penuh kegeraman dalam mimpi-mimpi tak jelas
ataukah sebuah kata engkau lahirkan lewat bilik mimpi
kebisuanmu hanya kegetiran aneh

Malam tak sepercik bayang
sebuah mimpi yang kabur dalam kegelapan
bung, di balik jendela tanpa kaca ’kata’ kesunyian ini selalu menjulur-julurkan kebenaran
mencatat makna kegaiban kata-kata hingga tak jadi lapar menakar-nakar :
”berapa usia sajakmu?”
Kapan lahir dan dimanakah kuburannya?
dan setiakah kata-kata
:dalam kesetiaan aksaramu
Serta kesadaran hidup :
berapa kalimat yang telah kau lahirkan dalam lingkaran reinkarnasi generasi yang sama?


TULISAN LAINNYA:

Pertemuan dengan Puisi

Catatan Wayan Jengki Sunarta: Pertemuan dengan Puisi
(Parade Cipta Karya Sastra Puisi Cerpen Drama Artikel da Catatan Budaya)

BAGI SAYA, puisi merupakan suatu wilayah sunyi dan sublim di mana saya bisa belajar tentang banyak hal, terutama perihal kehidupan dan keindahan dalam maknanya yang tak terbatas. Mencipta puisi merupakan usaha menyusun pecahan-pecahan kaca menjadi cermin diri, dari mana saya kemudian mencoba mengenali kembali kepingan-kepingan jiwa dan kenangan yang hilang, juga arah perjalanan hidup yang tidak akan pernah saya tahu akhirnya. Di dalam puisi, saya mengalami proses yang saya yakini mengarah pada penemuan jati diri.

Ketertarikan saya pada puisi bermula ketika saya masih duduk di bangku kelas dua SMPN 8 Denpasar, tahun 1990. Masih membekas dalam ingatan, bagaimana pada jam-jam istirahat saya suka menyelinap ke perpustakaan sekolah. Sebab uang bekal di saku jauh dari cukup untuk sekadar membeli semangkok bakso yang saat itu merupakan makanan mewah bagi saya. Sebagai penghibur rasa lapar, saya cukup puas “melahap” lembar demi lembar buku yang saya sukai (biasanya kumpulan cerpen atau novel) hingga bel pelajaran kembali berdentang.

Suatu kali, ketika asyik membongkar-bongkar rak buku di perpustakaan, saya menemukan Hari-hari Akhir Si Penyair karya Nasjah Djamin, yang menceritakan kehidupan penyair legendaris Chairil Anwar. Karena tertarik pada judulnya, saya lahap habis buku tipis itu dalam sehari. Akhirnya, saya kemudian terpesona pada puisi-puisi Chairil Anwar, pada sikap berkeseniannya, pada proses kreatifnya, pada gaya bohemian, eksentriksitas, serta jalan hidupnya yang dramatis. Dan “candu” puisi pun mulai bekerja pada jiwa remaja saya.

Sejak saat itu saya mulai suka mengkhayalkan diri sebagai penyair. Lantas saya mencoba merangkai dan menulis kata-kata indah yang saya bayangkan sebagai puisi. Hasilnya cukup melegakan diri saya. Buku tulis, sampul buku pelajaran, dan meja kelas menjadi korban pertama. Saat sekolah sepi, kadang-kadang saya suka menempel puisi-puisi itu di koran dinding. Keesokan harinya, kawan-kawan saya gempar dan meledek saya habis-habisan karena puisi-puisi itu mereka anggap terlalu gombal. Namun, saya tidak terlalu peduli, yang penting puisi telah mampu mewakili perasaan saya.

Memang, seseorang sering kali menjadi penulis karena memiliki kegemaran membaca. Sebelum mengenal perpustakaan sekolah, bacaan pertama saya kebanyakan adalah komik yang saya pinjam dari kakak sepupu. Saya menyukai cerita komik silat Tiongkok, silat Nusantara, Wiro Sableng, sampai kisah Ramayana dan Mahabharata dengan gambar-gambar indah karya R.A. Kosasih. Saya sering larut dalam kisah dan imajinasi yang dibangun serial komik itu; bisa jadi saya menyukai momen-momen puitis dan romantisnya.

Memasuki dunia “putih-abu” di SMAN 3 Denpasar, tahun 1992, saya semakin tergila-gila menggauli puisi, sambil menjalani kegemaran mendaki gunung, menyusuri hutan, menyisir pantai, dan bersepeda ke beberapa pelosok desa di Bali. Di sekolah, kebetulan saya terlibat dalam kelompok pecinta alam. Namun, sampai saat itu, saya belum menemukan pergaulan kreatif di bidang sastra. Saya asyik seorang diri dengan dunia baru yang menggoda saya: puisi.

Setiap kali mendaki gunung, kemah, atau menyusuri hutan dan pantai, saya suka membawa notes atau buku diari yang siap sedia menampung untaian kata-kata yang mengisahkan keindahan alam, rahasia kabut, misteri laut, ketakjuban pada embun, kengerian akan kelam malam, pukau maut, pesona Tuhan, kerinduan, kecemasan, sampai pada rasa putus asa sebab cinta yang tak terbalas. Hal-hal inilah yang kemudian seringkali membekas dan mengerak pada puisi-puisi saya kelak.

Seperti benih, bakat alam akan tumbuh subur bila menemukan wadah yang tepat. Begitulah, akhirnya di tahun 1993 saya menemukan pergaulan sastra yang telah lama saya impikan. Percintaan dengan puisi pun semakin menggelora, seiring keterlibatan saya dalam berbagai kegiatan sastra di Sanggar Minum Kopi (SMK), sepanjang 1993-1995. Boleh dikatakan, di sinilah bakat, proses kepenyairan, pemahaman dan pengalaman saya dimatangkan, melalui diskusi-diskusi, kritik, pujian, pertemuan kreatif, apresiasi, motivasi, publikasi, dan sebagainya. Pada masa inilah saya belajar menulis puisi yang benar-benar puisi, yang tidak sekadar mengandalkan bakat alam saja.

Kegemaran nongkrong di perpustakaan terus berlanjut, seirama rasa dahaga akan bacaan bermutu. Selain buku sastra, saya juga tertarik membaca buku-buku filsafat, religi, antropologi, mitologi, dan kisah-kisah kemanusiaan. Saat itu, minat saya pada puisi seakan mengalahkan segalanya, pun pelajaran di sekolah nyaris berantakan. Saya mempelajari sejumlah buku teori dan teknik puisi karya kritikus dan penyair ternama. Saya studi-banding dengan puisi-puisi Kirjomulyo, Goenawan Mohamad, Rendra, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, Frans Nadjira, Umbu Landu Paranggi, dan sejumlah penyair ternama lainnya.

Belakangan kemudian, wawasan dan pengetahuan puisi saya diperluas melalui pertemuan dengan para penyair dunia lewat dua jilid buku Puisi Dunia (Balai Pustaka, cet.II, 1967) susunan M. Taslim Ali. Kemudian, saya tertarik dengan puisi-puisi Prancis modern, terutama keliaran puisi Arthur Rimbaud. Untuk beberapa waktu, saya juga sempat menyerap teknik puisi dari karya-karya erotisme penyair Meksiko, Octavio Paz.

Perkenalan saya dengan puisi-puisi para penyair itu juga berkat diskusi dan pergaulan di SMK. Namun sayang, karena suatu persoalan internal yang tidak mampu diselesaikan, SMK membubarkan diri pada Agustus 1995, tepat di usianya yang ke sepuluh. Saya dan sejumlah kawan muda merasa kehilangan wadah yang sangat bermakna bagi proses kreatif kami. Meski SMK telah bubar, namun sampai sekarang para alumninya masih suka bernostalgia, saling mengunjungi, reuni, menggelar pertemuan-pertemuan kreatif, dan sebagainya. Bahkan, terkadang kenangan pada SMK menjadi suatu pembicaraan yang romantis dan sentimentil.

Yang jelas, pengalaman dan pergaulan di SMK terus membekas dan menjadi semangat kreatif dalam diri saya untuk membangun pergaulan-pergaulan kreatif lainnya. Misalnya, akhir 1995, saya bersama sejumlah kawan mendirikan Sanggar Purbacaraka di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Pada tahap awal, kami menggunakan tradisi, pola pergaulan, dan kegiatan ala SMK, seperti menggelar lomba cipta dan baca puisi nasional, diskusi sastra, jalan-jalan kreatif mencari hawa puisi, dan sebagainya. Kemudian, pada September 2000, saya bersama beberapa kawan membentuk Komunitas KembangLalang, sebagai wadah kreativitas para pecinta dan pekerja sastra, teater, dan seni rupa di Denpasar.

Saya percaya komunitas dan pergaulan kreatif seringkali menjadi salah satu fondasi dan wadah untuk mengukuhkan serta menumbuhkan bakat, minat, obsesi, impian, dan kecenderungan individu dalam suatu proses berkesenian. Justru dari interaksi dan komunikasi yang intens itu pengaruh-mempengaruhi dalam berkarya tidak lagi menjadi suatu yang tabu, melainkan tumbuh alamiah. Pencapaian “karakter” atau “ciri khas” dalam suatu karya, pada dasarnya juga berjalan seiring proses kreatif, kedewasaan, wawasan, pemahaman dan pengalaman berkesenian. Kalau pun ciri khas kemudian diperjuangkan, bagi saya, itu tidak lebih sebagai bagian dari sikap dan proses kreatif masing-masing individu yang sangat beragam.

Pertemuan dengan puisi merupakan suatu karunia yang tak bisa dinilai dengan ukuran-ukuran material. Kalau pun kemudian puisi mendatangkan honor (yang tidak seberapa) atau mengantar penyairnya jalan-jalan ke sejumlah kota—diundang membaca puisi, menjadi pembicara pada seminar sastra, dibukukan, dibicarakan, bahkan dimitoskan orang—bagi saya, itu hanya berkah dari pergaulan yang intens dengan puisi. Namun, puisi sendiri tetap merupakan wilayah sunyi dan sublim yang—meminjam sebaris puisi Frans Nadjira—hanya orang-orang tak waras yang berani menyeberangi batas angan milik penyair. Dan saya beruntung menjadi bagian pergaulan orang yang “tak waras” itu.


(Karangasem, Bali, 2007)


TULISAN LAINNYA:

Catatan: Saksikanlah wawancara ekslusif Metro TV bersama 'Grand Master Wanita Pertama Indonesia' Irene Kharis

Irene Kharisma Organizer 21 Januari jam 23:09 Balas
Saksikanlah wawancara ekslusif Metro TV bersama 'Grand Master Wanita Pertama Indonesia' Irene Kharisma Sukandar. Dalam acara Talk Show Sport Club Metro TV, Besok hari Jum'at 22 Januari 2010, pukul 16.30 WIB. Dengan tema 'Catur di Asian Games 2010 China' serta membahas masa depan catur indonesia dan juga masa depan karir profesional Irene kharisma Sukandar sendiri.
Dukung terus catur Indonesia..

TULISAN LAINNYA:

Catatan Dgkumarsana Kum: ILIK IPUN SANG PAKSI : rEndRA

Karya: Dgkumarsana Kum
(Parade karya sastra puisi cerpen drama artikel dan catatan budaya)

Ilik ipun sang paksi
Ring sangkar lebuh sangkaning maya-maya
Blubuh ning-ning buwana
Keles ring kukupan bungkem
Blasak metinggah ngalahin semaya
Tatas nyuluhin jagat

Ilik ipun sang paksi
Ngisis ring plupuh canggak nebekin candra
Ngicalang sunaran,niki tunas warta duh, Rendra
Riinan gumi landuh dahat wacen saking : sepatu lawas, asikian pamargi Golgotha, Mancuria, Sretenski boulevard rauhin sanatorium Chakhalinagara saking momot jantos dunungan sang dumadi
Ngeraris ning-ning semaya

Ilik ipun sang paksi
Makeber tegeh nebekin sunia

TULISAN LAINNYA:

Catatan: Cerita sukses seorang Pengemis

cerita motivasi
Untuk anggota PERUBAHAN HIDUP MANUSIA UNTUK MENJADI LEBIH BAIK
Steffanus Steve Tan 18 Januari jam 20:26 Balas
Cerita sukses seorang Pengemis
(Parade Cipta Karya Sastra Puisi Cerpen Drama Artikel dan Catatan Budaya)

Tanggal 19 januari 2001, Di sebuah kota besar yang berada di planet ke tiga Galaksi MilkyWay. Pada sore hari ketika banyak orang pulang kerja. Ada satu orang pengusaha menaiki mobil BMW serta terlihat sedang terburu-buru. Dia turun dan menuju ATM terdekat untuk mengambil sejumlah uang.

Yang pasti uangnya dalam jumlah BESAR.

Di depan ATM itu ada seorang yang sedang duduk-duduk dilantai. Pakainnya kumuh, berlubang dan seperti tidak pernah dicuci. Sorot matanya menunjukkan seseorang yang tidak mempunyai harapan. Didepannya ada sebuah gelas berisi uang. Jika anda sedang berpikir dia adalah seorang pengemis.

Anda 100% benar.

Tapi si pengusaha dengan cueknya melangkah melewati si pengemis dan masuk ke dalam ruang ATM. Ternyata di dalam pengusaha itu tidak ingin mengambil uang, dia hanya sekedar ingin mentransfer uang.

Yang pasti transfernya dalam jumlah BESAR.

Ketika dia hendak keluar. Entah perasaan darimana si pengusaha menjadi iba kepada pengemis. WOW! dia mengambil dompet dari sakunya. Setelah melihat dari pojok kiri ke pojok kanan sisi dompet. Dia akhirnya berhasil menemukan uang dengan nominal paling kecil!

Seribu Rupiah dia berikan kepada si pengemis.

Terima Kasih tuan, Kata si pengemis dengan bibir tersenyum senang. Sampai senangnya dia mengambil uang seribuan itu dari gelas dan memegangnya dengan kuat. Hmmmmm… mungkin ini adalah pendapatan terbesarnya hari itu.

Exspresi dari pengusaha itu hanya tersenyum kecut. Tidak lebih dari itu! kemudian dia mulai meninggalkan si pengemis menuju mobil mewahnya. Lalu… entah kenapa! ketika dia ingin memasuki mobil… dia seperti tidak rela memberi uang dengan cuma-cuma kepada pengemis tadi.

Dasar Kikir! Dia berlari kembali menuju ke pengemis. Ketika ingin mengambil uang seribuan miliknya. Dia tertahan! atau tidak bisa karena uangnya masih digenggam oleh si pengemis.

Akhirnya tanpa pikir panjang!

Si Pengusaha mengambil gelas pengemis yang mungkin adalah harta satu-satunya. Dengan enteng dan terlihat seperti mengejek. Si pengusaha kikir itu berkata:

Kamu juga pengusaha bukan?

Kemudian pengusaha berlari kembali ke mobilnya. Dan si pengemis hanya bisa melongo. Walau samar-samar terlihat ada air yang keluar dari matanya.

Hmmmmm…

Bersamaan dengan itu terlihat langit sudah berwarna merah. Mataharipun mulai terbenam.
8 tahun kemudian….

Tepatnya tanggal 2 juli 2009. Di sebuah gedung mewah yang terdapat di kota besar di planet bumi. Si pengusaha sedang berada di kantornya. Melamun! bahkan terlihat seperti orang stres.

Tentu saja dia stres! Gara-gara krisis ekonomi global, bisnisnya hampir bangkrut! tinggal menunggu hari saja dia akan menjadi miskin. Suatu hal yang tidak pernah dia rasakan seumur hidup. Belum lagi tanggungan hutang yang tidak bisa dia bayar.

Bukan hanya jatuh miskin, mungkin dia akan masuk penjara karena tidak bisa melunasi hutangnya.

Tiba-tiba!

Telepon berdering. Ternyata itu dari sekertarisnya. “Pak ada orang yang mau bertemu dengan bapak”.

Sebenarnya pengusaha itu sedang malas menemui siapa-siapa. Apalagi orang yang tidak dikenalnya. Namun dia putuskan untuk menemui si tamu misterius ini.

Tamu misterius itu pun masuk. Lalu diikuti dengan basa-basi singkat seperti perkenalan nama dsb. Lalu pengusaha pun menanyakan maksud kedatangan si tamu.

ALANGKAH KAGETNTA!

Tamu misterius itu mau menginvestasikan uang dalam jumlah besar dalam perusahaannya. Bahkan jumlah uang itu juga sanggup melunasi hutang perusahaan. Pengusaha itu hanya melongo tidak percaya.

Tapi sebelum si pengusaha berhenti dari kegiatan melongonya. Si tamu misterius itu berkata :

Mungkin bapak sudah lupa terhadap saya. Dulu saya adalah pengemis yang sering mangkal di depan ATM. Gara-gara bapak dulu ngomong kayak gini Kamu juga pengusaha bukan?

Saya waktu itu benar-benar terharu.

Anda tidak menganggap saya sebagai pengemis seperti orang lain, melainkan penjual yang sedang menjual barang.

Waktu itu juga saya berhenti mengemis. Lalu merintis usaha saya sendiri. Dan bisa bapak lihat akhirnya saya BERHASIL

Jadi begitulah Saudara kesuksesan PASTI berawal dari sebuah motivasi. Memang Cerita diatas hanyalah kisah fiksi. Tapi saya harap setelah membaca cerita ini…anda bisa membuatnya menjadi kisah nyata.


Artikel Cerita sukses seorang Pengemis ini dipersembahkan oleh Blog Kucing.

SALAM SPEKTAKULER
(BINTANG TAUFIK)

TULISAN LAINNYA:

PARADE CIPTA KARYA SASTRA

Bemo (Sepertinya) Membentuk “Tim Pembentuk Opini Publik di Internet”

http://electrohide.blogspot.com

Berikut ini adalah posting yang diambil dari Kaskus 10-3174253. Sekali lagi, dugaan semakin kuat bahwa partai Bemo berusaha membuat suatu “jaringan pencitraan” tidak hanya di publik secara umum, tapi juga media Internet.

Caranya dengan memasukkan komentar komentar yang membela partai Bemo dan tentu saja juragannya, dan mengcounter opini-opini yang kritis. Gw berpikir ini ada benarnya, karena sedikit banyak di timeline twitter gw ada satu orang yang gw follow yang tampaknya keukeuh banget kalo “tidak ada apa apa dengan Sri Mulyani” dan kasus Century-nya. Yang menjadi menarik, orang ini adalah jurnalis terkenal, karyanya pernah di-ban oleh Soeharto karena terlalu kritis. (lihat di Facebook.com )

Pertanyaan besarnya, mengapa dia tampak tidak kritis dalam masalah SM dan BC? Adakah dia bagian dari apa yang disebut “tim pembentuk opini publik”? Silahkan disimak.

*Kaskus Diawasi Tim SBY Setelah Kompasiana? - Dhvala*
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3174253

Kehadiran kompasiana.com mendapat pemantauan khusus dari orang-orang terdekat SBY. Blog berita dan interaksi ini, sejak kemunculannya dinilai sangat kritis dalam menyoroti kasus Bank Century.

Bahkan secara khusus, SBY dikabarkan menghimbau para stafnya yang berada di istana kepresidenan, wajib setiap hari mengikuti perkembangan informasi di kompasiana. “SBY sangat khawatir sekali dengan kehadiran blog ini (kompasiana) dijadikan sebagai media alternatif publik untuk mengakses berita-berita seputar skandal Bank Century,” ujar salah satu staf khusus presiden, yang enggan namanya dipublikasikan.
Apa yang diawasi?

Masih menurut sumber orang dekat SBY, seruan pengawasan terhadap kompasiana juga ditengarai berkaitan dengan kemunculan mantan Wakil Presdien, Jusuf Kalla. “Wawancara pak Jusuf Kalla dengan pengelola kompasiana sempat diposting oleh SBY, bapak terlihat kurang apresiasi dan sangat gelisa sekali dengan isi wawancara itu” katanya. (JK: Saya tidak senang dipanggil seperti itu*)

Menurutnya, SBY juga telah meminta dibentuk sebuah tim kecil di istana kepresidenan untuk mengcounter isu-isu seputar kasus Bank Century. “Kalau perlu 2 x 24 jam melakukan siaga penuh atas setiap perkembangan yang terjadi di blog itu (kompasiana),” tegas SBY, lanjut orang tersebut.
Paranoid

Kekhawatiran SBY sebagaimana dilontarkan oleh orang dalam istana menuai kritik dari sejumlah tokoh oposisi. Ali Mochtar Ngabalin, aktivis Gerakan Indanonesia Bersih (GIB) yang juga mantan anggota DPR, menilai sikap SBY dan orang-orang disekitanya sangat paranoid.

“Kalau dia (SBY) bersih dan tidak terlibat dalam skandal Bank Century kenapa harus takut. Bukan hanya kompasiana yang kritis, tapi media online lainnya juga sangat transparan dan cerdas dalam menyikapi kasus Bank Century,” kata Ngabalin.

Terkait dengan rumor bahwa SBY telah membentuk sebuah tim kecil untuk memantau kehadiran kompasiana, Ngabali mengatakan tindakan SBY tersebut terkesan sangat berlebihan. “Tim apalagi yang mau dibentuk, terlalu banyak tim dibentuk hanya untuk mengurusi dan menjaga kepentingan kekuasaan. Saya khawatir sikap paranoit SBY yang reaksioner itu akan membuat istana menjadi penuh-sesak dengan berbagai macam tim yang kerjanya hanya mematai-matai kelompok kritis di negeri ini,” ujar Ngabalin.

Sumber : Kompasiana - SBY Awasi Kompasiana

Jika tulisan ini benar adanya dan Pres SBY membentuk tim untuk mengcounter tulisan-tulisan tersebut dengan sejumlah biaya, maka anggaran negara kembali tersedot via biaya sekretariat negara. Sebagai presiden, SBY memiliki wewenang sangat besar untuk menggunakan anggaran tersebut. Apabila hal-hal yang diopinikan adalah tepat, maka saya tidak berkomentar lebih lanjut (50:50).

Yang berbahaya adalah tim SBY untuk opini media (kompasiana) dan mungkin juga kaskus, hanyalah untuk mengiring opini bahwa pemerintah selalu benar tanpa cacat. Dengan menghire orang-orang yang ahli komunikasi politik dan debat online, maka bisa saja kebenaran diputar balik.

Bagi rekan-rekan, mungkin masih ingat bagaimana pemerintahan SBY melalui partai Demokrat 'membodoh-bodohi' masyarkat dengan iklan 'kejayaan' 'menurunkan' harga BBM yang sejatinya telah dinaikkan berkali-kali. (Iklan Penurunan BBM SBY dan Demokrat Busuk. Hentikan!*)

Begitu juga, pernyataan-pernyataan keberhasilan subjektif yang menjadi senjata kampanye silam. Yang dalam kapasitas terbatas, saya berusaha mengcounter iklan-iklan atau komunikasi publik yang tidak sepenuhnya benar. (12 Fakta Keberhasilan SBY dan Antitesanya*)

Saya khawatir, jika yang dipropagandakan orang istana tidak hanya informasi keberhasilan yang sesungguhnya, namun pernyataan keberhasilan yang dinyatakan diatas ketidakberhasilan. Lalu, publik tertipu.

Dan mirisnya bila anggaran untuk membentuk opini publik ini menyedot anggaran sekretariat negara (Pres+Wapres). Sebagai info, Untuk dana kepresidenan dan wapresnya saja menghabiskan Rp 1.1 triliun atau Rp 3 miliar per hari pada tahun 2008.

Jadi, adakah diantara kaskuser yang telah di'hire' oleh tim internet istana?

PS: Artikel lengkap beserta link link didalamnya bisa dibaca di:
http://electrohide.blogspot.com/2010/01/bemo-sepertinya-membentuk-tim-pembentuk.html

kiriman
Adi D. Jayanto
ke mediacare


TULISAN LAINNYA:

Puisi: PRAJURIT JAGA MALAM

Karya : Chairil Anwar
(Parade Cipta Karya Sastra Puisi Cerpen Drama Artikel dan Catatan Budaya)

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(1948)
Siasat,
Th III, No. 96
1949

Sumber: PUISI-PUISI CAIRIL ANWAR

Puisi: Lanskap Laut Sunyi

Oleh : I Made Sarjana
(parade cipta karya sastra puisi cerpen drama artikel catatan budaya)


hari-hari berlari
tertawa menggantang asa
tersenyum dalam sua
tapi aku tetap seekor pedasih
menari menyanyi dalam sunyi
digiring ombak tanpa suara
pasir di bibir pantai pun mengering
gelombang tak lagi berbuncah ombak


laut bukan lagi tempat melempar sauh
gemuruh kaki kaki nelayan
semarak layar perahu ditenggelamkan kabut bisu
hanya gemerincik air menuang mimpi

di mana bulan tersenyum menumpahkan rindu
pedasih bernyanyi dalam sunyi
menari dan menari dalam irama sepi

hari-hari melaju kelabu
memandang mimpi lenyap di kulum rindu
akulah pedasih yang dikunyah-kunyah sepi
tenggelam dalam lautan biru menuju
terhempas karam pada karang ilalang
sendiri dalam sunyi

januari, 2010

DOWNLOAD PUISI INI

Puisi: Di BaLik KacA KeTikA Bulan MeNggApAi WAjaHmU


Oleh : Dgkumarsana
(parade cipta karya puisi cerpen drama artikel catatan budaya)

Di balik kaca
ketika bulan menggapai wajahmu
retak
kita pernah menjadi matahari
dan bersama-sama memburu bulan, sinarnya luruhkan
wajah buram
menakar pesona sambil belajar memahat asmara
membidik cahaya dibirunya kilasan dunia benderang

Di balik matamu
bulanku
airmata berkaca-kaca terpanah air asmara
membidik matahati
di puncak gugurnya arah langit runtuhnya hujan
menggapai kilatan cahaya nanar
matamu penuh luka

Bulan gugurnya hari hari memahat hati
terbata bata, bisikmu :
kembalilah cinta yang hilang mengelupas
dan mengental
di ujung jalanan tak beraspal
panas tersiram pantulan matahari
sambil membagi bagi kenangan
sepanjang lukaku likaliku penuh kepahitan
berbalut dalam


panjer,1987
(dimuat bali post minggu)
tahun 1987

Catatan: Hati-Hati Machiavelisme

Sejarawan Inggris bernama Lord Acton pernah menyebutkan bahwa kekuasaan itu cenderung korupsi: all power tend to corrupt and absolute power corrupt absolutely. Hal tersebut mengisyaratkan sangat kuatnya godaan kekuasaan ketika menumpu pada seseorang atau sekelompok orang. Akhir-akhir ini (baca: sejak diakuinya eksistensi KPK), semua orang telah diberi hal ironi seiring dengan terungkapnya sejumlah kasus korupsi oleh para pejabat publik yang notabene mereka berada atau memiliki kekuasaan. Dari sekian kasus yang terungkap tersebut adalah korupsi yang dilakukan oleh oknum anggota legislatif yang sebelum menjadi anggota dewan berjanji di hadapan konstituennya untuk mengedepankan kepentingan rakyat.

Norman Basley menyebutkan bahwa Politics has no moral; politik Itu tidak bermoral. Ungkapan tersebut merupakan simpulan dari konsep Machiavelis yang disinyalir melekat dalam kehidupan politik berdasar atas realitas yang ada. Dengan demikian, pengabaian terhadap prinsip-prinsip moral dan etika merupakan suatu hal yang lumrah dan wajar dalam kehidupan politik.


Sumber :http://persis.or.id/?p=469 (

KiDunG KemATiaN

sajak : DG.Kumarsana
(parade cipta karya sastra puisi cerpen drama artikel dan catatan budaya)

Angin saja masih betah menghirup anginnya
ketika kucoba meraba jalannya kerak bumi
di ujung lintasan kematian sambil menggambarkan
angan peta neraka sorga arahnya pintu kuburan

Namun senantiasa menerawang jauh langkah
sejauh pintas lidahmu yang dilidahkan para rhsi
sabda suci ratusan tahun sebelum aku gagu
ragu merapal lagu lagu wahyumu
ketika ketakutan ini silih berganti timbul
tenggelamkan enceran kimia berlebih di dasar lambung
sampai pintumu renggang, limbung aku menghitung
tetes demi tetes cairan infus yang merobek jalan darahku
hingga kenyal menghempas hempas di atas balae menanti
batu kuburan yang bakal terpahat buat namaku

Aku mundur lupa bunuh diri
berpuluh puluh zat kimia tercetak dari enceran penyadap
syarafku : terasa hanya pita music jazz yang menggelitik berpuluh
puluh asap nikotin beriringan serapahi terowongan jalan
napasku tak lebih hempasan angin semilir
terlampau kecil mendahului serakahi gambaran akherat tak tergambar jelas aku
bertahan dengan angin disini


panjer'1990

dimuat di bali post minggu
tahun 1990
pos gradag-grudug UMBU LP

Catatan: PROSA KEMENANGAN SD SARASWATI 6 DENPASAR

Malam begini sunyi. Hanya jengkrik melantunkan nyanyian malam, mengantar duta-duta SD Saraswati 6 Denpasar menuju peraduan. Sebab esok mereka harus berperang, berjuang mengharumkan nama, mengharumkan keluarga, mengharumkan almamater tempat mereka menuntut ilmu.

Seolah hanya sekejap perjalanan sang dewi malam. Kokok ayam jantan bersahut-sahutan mengusik kesunyian itu. Kehidupan di kota Singaraja mulai bangkit dari tidurnya. Sayup-sayup terdengar suara klakson dan deru mesin dari kejauhan. Dalam keremangan ibu-ibu menggendong bakul di punggung menuju pusat bangkitnya kehidupan. Para pejuang duta almamater itu pun mulai menggelian. Mereka tak hendak membiarkan sejengkal waktu merayap meninggalnyannya. Mereka bangkit dari ranjang peraduan.

Perlahan, mentari pagi menyinari Singaraja, menghangatkan suasana. Tak mau terlena dari hangtnya pagi, para duta bergegas mandi, bersalin dengan seragam rapi, dan tak lupa sarapan pagi, sambil mengisi amunisi (belajar). Jam keberangkatan tiba, dengan semangat dan rasa percaya diri mereka melangkah menuju zona peperangan (tempat lomba), Undiksa Singaraja.

Satu pleton pasukan yang terdiri atas 15 siswa SD Saraswati 6 Denpasar berjuang dalam ajang Olimpiade Matematika dan Sains di Undiksha Singaraja. Kemenangan memang sedikit terbayang di depan mata, ketika melihat sportivitas mereka di hadapan lawan sebelum berperang (berlomba).

Lonceng pertarungan pun berdentang. Mereka memasuki medan perang dan menyusup ke dalam pos-pos masing-masing. Tahap (babak) pertama dimulai. Selama 2 jam mereka mengatur strategi memeras otak, mengutak atik posisi lawan (soal) dengan tingkat kesulitan tinggi. Tanpa mereka sadari, sangkakala senja (akhir babap pertama) berbunyi. Mereka keluar perlahan dari pos penyerangan dan pertahanan (ruang lomba), kembali ke barak (luar ruanga). Tak sabar, mereka menyerbu pimpinan pasukan (guru pendamping) untuk melaporkan hasil pertempuran. Pemimpin pasukan menerima laporan dengan teang dan bijaksana sambil menenangkan sekaligus memberi semangat kepada para pasukan itu sehingga mereka pun tenang, nyaman, dan kembali percaya diri.

Dalam peristirahatan, sambil kembali mengisi perbekalan (makan siang) seraya menghibur diri dengan berbagai permainan, sambil menikmati keindahan zona perang (areal kampus Undiksa). Untuk sementara mereka melupakan suasana perang tadi dan yang akan datang berikutnya.

Lewat tengah hari, berita diumumkan (Pengumuman 20 besar lolos ke babak final) di hadapan 380 peserta, di dampingi para komandan pasukan (guru pendamping) disertai rakyat (orangtua siswa) dari seluruh zona pertikaian (se-Bali). Hati mereka pun berdebar menunggu berita itu. Dalam berita (pengumuman) dinyatakan 20 orang lolos menuju zona perang selanjutnya. Di antara ke-20 pasukan itu, tercatat 3 di antaranya berasal dari kompi (sekolah) SD Saraswati 6 Denpasar.

Pk 14.30, ke-20 pasukan yang lolos pada tahap pertama, mulai berperang dalam zona final. Pada zona ini kemampuan mereka benar-benar diuji, baik keterampilan teknis maupun kemampuan strategis (kemampuan berpikir). Selama tiga jam mereka bertarung baik kemampuan strategis (tertulis) maupun kemampuan teknis (praktek). Sungguh sebuah perang (ujian) yang memerlukan stamina yang sangat prima. Tembakan dan gempuran terus berlangsung tanpa henti selama tiga jam itu.Hingga akhirnya sangkakala perang berbunyi, tanda perang harus dihentikan.

Pukul 18.00 berita (pengumuman) kemenangan diumumkan Di sinilah mulai dipahatkan sejarah baru yang diciptakan oleh pasukan dari kompi SD Saraswati 6 Denpasar. Seorang prajurit dari SD Saraswati 6 Denpasar dinobatkan memperoleh gelar Juara I, berhak atas Piala Tetap sekaligus meraih Juara Umum sehingga berhak atas Piala Bergilir + hadiah lainnya. Penghargaan ini diraih oleh Kadek Putri Paramita Abyuda.

Seorang prajurit dari kompi SD Saraswati 6 Denpasar juga meraih penghargaan Juara IV sekaligus meraih penghargaan The Best Teori, atas nama Putu Kresnadinata; serta seorang prajurit lagi, meraih prestasi Finalis Peringkat 17 atas nama I Wayan Manacika. Semuanya berasal dari Peleton Kolas VIA Kompi SD Saraswati 6 Denpasar.

Selamat kepada ketiga pasukan tempur yang pantang menyerah. Mereka pun disambut ucapan selamat dengan tambur dan gong kemenangan sampai di Kompi SD Saraswati 6 Denpasar. Sekali lagi selamat, selamat, selamat. Kalian telah mengharumkan nama SD Saraswati 6 Denpasar (Penulis: I Made Sarjana, dikembangkan dari tulisan SD Saraswati 6 Denpasar Berjaya tulisan Ida Bagus Astawa, Amd.)

Catatan : CERITA MOTIVASI

Parade cipta karya sastra puisi cerpen drama artikel dan catatan budaya

Untuk anggota PERUBAHAN HIDUP MANUSIA UNTUK MENJADI LEBIH BAIK Steffanus Steve Tan 16 Januari jam 15:10 Balas

Ketika Raja Louis XVI digulingkan dari takhtanya dan dijebloskan ke dalam penjara, puteranya yang merupakan pangeran penerus takhta kerajaan diculik oleh orang-orang yang mengkudeta kerajaan.

Sang pangeran dihadapkan pada hal-hal yang paling menjijikan secara moral. Mereka pikir, jika sang pangeran terpengaruh pada godaan duniawi maka ia tidak akan bisa mencapai takdirnya sebagai raja.

Setiap hari, sang pangeran disuguhi berbagai makanan yang mewah yang jumlahnya sangatlah banyak, minuman anggur, para pelacur yang sangat erotis, bahkan kata-kata jorok dan kasar yang tidak layak diucapkan oleh bangsawan seperti dia.

Hari berganti hari, hingga akhirnya setelah enam bulan, mereka menyerah. Sang pangeran ternyata tidak tergoda sedikit pun terhadap godaan dunia. Mereka pun bertanya kenapa sang pangeran begitu teguh. Sang pangeran berujar, ”Aku tidak mungkin melakukan hal-hal menjijikan seperti itu, karena sejak dilahirkan Aku telah ditakdirkan sebagai seorang raja“.

Kita harus mempunyai keteguhan dalam mempertahankan impian kita. Tidak dapat dimungkiri bahwa perjalanan menuju ke tangga sukses penuh onak dan duri.

Lantas bagaiamana kita bisa memiliki keteguhan? Yang terpenting kita harus mempunyai paradigma atau citra diri yang positif kepada diri kita. Siapakah kita? Apa takdir kita di dunia ini?

Diri Anda andalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Takdir Anda adalah mengabdikan dirinya. Menyerukan namanya di dunia ini. Apapun impian Anda, berjuanglah atas nama Dia. Maka, rintangan apapun tidak akan bisa menghalangi Anda.

Jika Dia hendak mengangkat Anda, tidak ada seorang pun yang bisa menjatuhkan Anda. Begitupun jika Dia hendak menjatuhkan Anda, maka tak seorang pun di dunia ini yang bisa mengangkat Anda.


Dikirim oleh Ace Ruhyat, Self Development

Artikel: Keteguhan Jiwa Penyajak

Oleh : I Made Sarjana
(parade cipta karya sastra puisi cerpen drama artikel informasi dan catatan budaya)

Karya sastra umumnya, puisi pada khususnya, merupakan gambaran jiwa penulisnya. Keadaan jiwa penyajak itu akan diungkapkan melalui kata-kata, yang dirangkaikan menjadi sebuah karya sastra yang berbentuk puisi. Tentunya tidak semua suasanya jiwanya dimasukkan ke dalam karya tersebut. Dalam proses penciptaan ia (penyair) akan menyeleksi inti sari-inti sari, yang mana harus diungkapkan melalui karya tersebut.

Oleh karenanya, jika kita membaca sebuah karya sastra, khususnya puisi, kita akan dapat menyimak dan mengetahui bagaimana sikap dan jiwa penyajak. Tentunya dalam hubungannya dengan kehidupannya. Kita akan tahu sikap penyajak terhadap kehidupan yang dialaminya. Apakah dalam kehidupannya, penyajak sebagai manusia yang mempertahankan hidupnya untuk mencapai hasrat dan cita-citanya, bersikap acuh saja? Seperti perahu kertas yang hanyut di sungai. Atau ia dalam mempertahankan hidupnya, mencapai cita-citanya dengan penuh perjuangan, melawan arus, meski harus mengalami kegagalan untuk kesekian kali. Atau untuk berkali-kali mungkin. Mampukah ia bertahan dalam bercanda dengan kegagalan perjuangan itu?

Untuk melihat sikap seorang manusia menghadapi kehidupan, marilah kita simak sebuah puisi karya K. Landras yang berjudul “Nyanyian Hidup II” lewat BPM, 28 Oktober 1984. Inilah larik-larik puisinya.

Nyanyian Hidup II

Karena hidup bukan penyerahan

Maka tanggalkan luka kemarin

Karena kemarin hanya mimpi

Memang kita telah kalah

sejak tangis jatuh pertama

tapi bukan lalu menyerah

jangan biarkan semut-semut

menertawai kita

Mari kasih

tinggalkan mimpi nakal ini

ikat rambutmu erat erat

kita bakar matahari

Melalui puisinya yang terdiri atas tiga bait itu, K. Landras bertekad untuk mencapai hasratnya (cita-cita) yang memerlukan suatu perjuangan yang tidak kecil yaitu « membakar matahari”. Untuk mencapai inilah ia harus kuat menanggung kegagalan-kegagalan. Namun suatu sikap yang patut kita puji telah melapisi jiwanya, tak mengenal lelah, penuh keyakinan, dan keteguhan hati, yang penuh kesadaran.

Pada bait pertama dapat kita lihat sikap penyajak yang begitu tegas, untuk meninggalkan luka, luka akibat perjuangan hidup. Meninggalkan kegagalan-kegagalan yang pernah dialami dalam pencapaian suatu cita-cita, bahwa hidup bukanlah suatu penyerahan. Berarti hidup harus diperjuangkan, tidak menyerah begitu saja.

Kemudian kalau kaita lihat bait berikutnya, akan kita lihat sikap ang penuh kesadaran. Ia mengatakan bahwa memang sejak awal kelahirannya, seaj kemunculannya ke dunia sudah merupakan kekalahan. “Memang kita telah kalah/sejak tangis jatuh pertama/”.

Saya jadi teringat perkataan seorang teman bahwa dalam kelahiran kita ke dunia ini, kita tak sempat mengadakan perlawanan untuk memilih, dan memilih tempat lahir. Ini berarti kita telah kalah tanpa syarat, kita kalah dengan sikap konyol. Namun penyajak, oleh kesadaran itu, tak mau menyerah karena kekalahan-kekalahan itu. Dan jika menyerah berarti akan mendapat tertawaan semut-semut, seekor mahluk yang begitu kecilnya akan menertawakan.

Selanjutnya ajakan penyajak kepada kekasihnya, meninggalkan mimpi yang sering mengganggu, mimpi-mimpi yang nakal, lalu mengikat rambut erat-erat agar tak terganggu dalam perjuangan itu. Dan akan sampailah pada cita-cita untuk membakar matahari.

Dari puisi tersebut, betapa teguh sikap penyajak dalam menghadapi hidup dan cita-cita.

KITA eharusnya dapat memiliki sikap seperti Landras, dalam mencapai cita-cita. Suatu sikap yang patut kita beri acungan jempol , dan perlu kita pupuk untuk mencapai kehidupan yang berarti. Marilah kita laksanakan ajakan-ajakan Landras melalui puisi karyanya. Dan yang terakhir, buat Landras, selamat menuju cita-cita, selamat melangkah untuk membakar matahari. Okey, semoga berhasil (sudah pernah dimuat pada koran Bali Post Minggu, 18 November 1984).

Puisi: Hidup 1

Oleh I Made Sarjana
(parade cipta karya sastra puisi cerpen drama artikel informasi dan catatan budaya)

Lelahku mencekik sukma
Tulang putih pendar sarat
mencari seribu mercu di
dalam pekatmu.
Kau lihatkah kakiku
bawa busur sesarkan padaMu
Kau saksikanlah senyumnya hampa
mencari terang dini.
Sisa peluh tubuhku
lekat dalam sukma
leleh cair kembang
kerna panah dia resah

September' 84

Puisi: Solilokui

(parade cipta karya sastra puisi cerpen drama artikel informasi dan catatan budaya)

di mana bulan bernyanyi
kita hanya berdiri lalu menyisir butir demi butir
pasir pantai ini menggurat bayang laut di pulau
dan bila sajak hanya lamunan
akulah sajak itu dan engkaulah lamunanku
gelombang lewati gelombang
menghabiskan putaran-putaran jarum jam
kita masih tetap menatap setitik bayang perahu
karena gelombang laut tak pernah sepi
biarlah angin menghempas-hempas ruang hati
biarkan aku jadi jarum jam kerinduan
meniti detik detik waktu
hingga maut menghentikan langkah
dan bila puisi hanya kerinduan
akulah puisi itu dan engkaulah rinduku


I Made Sarjana, 1999
Puisi ini dimuat dalam buku kumpulan puii Hijau Kelon & Puisi 2002
terbitan KOMPAS

Puisi : Lanskap Sebuah Pantai

(parade cipta karya sastra puisi cerpen drama artikel informasi dan catatan budaya)

Kado tahun baru buat dewi antari

butir-butir pasir masih basah oleh pasang sore
jejakmu tegas menggurat bayang
beribu mil riak air dan gelombang
bibir pun mengering
ke mana b
bulan tinggalkan kerling
hanya pungguk tertengger di ranting kerut dan kering
menanti purnama bulan pun mati
pantai ini cuma camar
melingkar-lingkar di langit,
tusuk menusuk kerlip riak buih
bibir pantai dan gelombang makin jauh
angin berhembus
dan langit makin pekat
ke mana perahu berlabuh, malam ini
begitu larut dan penat
aku sendiri berebut mimpi

I Made Sarjana, januari’ 99
Puisi ini dimuat dalam buku kumpulan puisi Hijau Kelon & Puisi 2002 terbitan KOMPAS
 
7TQ5GW3HXHM7