Home Puisi Cerpen Drama Artikel Info Catatan Kontak
Selamat Datang di Ruang Pajang Cipta Karya Sastra (Puisi, Cerpen, Drama, Artikel, dan Catatan Budaya). Bagi Teman-Teman yang ingin karyanya ditayangkan di sini silakan email ke md.sarjana@gmail.com; bagi yang ingin langsung posting di blog ini silakan kirim alamat email ke md.sarjana@gmail.com
Klub Bisnis Internet Berorientasi Action

cErPeN : RUMAH

Catatan Dgkumarsana Kum: cErPeN : RUMAH

Istriku minta rumah kecil. Aku terhenyak mendengar permintaannya. Kuhempaskan koran pagi di atas meja dan memandang leka-lekat wajahnya. Kupandang lebih teliti. Segala yang ada pada rona wajahnya adalah kejujuran dan kepolosan seorang wanita, tetap masih menjadi bagian dari milikku, tidak ada yang kurang. Dan memang tidak perlu dikurangi. Tidak ada yang hilang, bahkan kian menjadi lekat untuk sebuah keyakinan tentang milik yang tidak dapat dipertentangkan untuk menjadi pengakuan orang lain, maksudnya orang lain tidak boleh mengakui istriku atau merasa ingin memiliki, apalagi sama-sama mau merebut untuk memiliki. Karena akulah pemenang itu. Itu sudah menjadi milikku yang sah. Sahnya begini, inilah istriku satu-satunya yang dulu secara rela dan jujur menyatakan kompensasi asmara tanpa ada unsur paksaan. Rela karena tidak ada kesan penolakan dari mertuaku sebelumnya. Jujur karena aku mencintainya secara bulat dan utuh. Artinya, istriku yang satu-satunya ini telah sehati dengan ku. Satu-satunya yang kumiliki, karena aku tidak mempunyai istri yang lain lagi. Itu artinya juga mertuaku cukup satu saja. Cukup sekali mempunyai mertua. Tidak boleh lebih dari satu.
Dan sekarang istriku minta rumah kecil, Lha? Sekecil apa? Apa seukuran rumah burung dara? Terus untuk apa? Untuk siapa rumah itu? Ya tentu saja untuk merumahkan jasmani dari panas dan hujan. Dari kedinginan malam, untuk memudahkan mengantarkan sebuah mimpi di tempat tidur. Wow betapa menyenangkan sebuah rumah kecil memberi mimpi-mimpi panjang tentang kenikmatan hidup. Aku setuju karena Aku manusia biasa seperti istriku juga, yang butuh mimpi-mimpi. Tapi manusia punya keterbatasan, itulah aku sebagai keterbatasan seorang pegawai kecil dengan golongan rendah yang berpenghasilan pas-pasan, cukup buat makan setengah bulan yang sisanyanya habis dengan nota-nota bon warung. Betapa menyedihkan. Bahkan nanti kalau seandainya keinginan itu terwujud, sebuah rumah kecil, akan harus melengkapi dengan segala perabotan rumah tangga yang cukup banyak. Harus membeli meja dan kursi kalau ada teman-teman, tetangga, kerabat saudara, sanak famili yang datang bersilaturahmi ke rumah. Harus membeli cangkir kecil dan piring kecil untuk menghidangkan minuman dan sekadar makanan ringan. Kalau seandainya ada keluarga jauh yang datang berkunjung pastilah harus mempersiapkan kamar tidur yang bagus dan ukuran layak buat menginap. Bagiamanpun juga mereka harus bermalam di rumahku yang kecil. Dan aku harus melengkapi dengan kamar mandi yang sangat bagus agar tidak memalukan. Karena ukuran rumah yang sehat dan bersih harus ada kamar mandi yang terawat dengan jamban yang bersih. Dan tentunya kami harus membayar seorang pembantu untuk membersihkan semua itu. Itu perlu biaya. Ah, tiba-tiba aku jadi tidak bergairah sama sekali.
“Hanya sebuah rumah kecil saja, cukup untuk kita berdua dan anak-anak kita nantinya,” istriku kembali menegaskan. Aku pura-pura menoleh ke arah lain membuang pandangan ke arah sudut kamar kost yang sempit. Hampir sudah 5 tahun terlewati waktu-waktu dengan kejenuhan di kamar sempit ini. Telingaku tajam menuntut pendengaran selanjutnya. Selanjutnya apa yang akan dikatakan? Pikiranku terlampau jauh mencerna sebelum rencana terucap jadi sebuah kalimat yang panjang. Kalimat yang memberi obsesi menarik akan sebuah keinginan yang belum pasti bisa terlaksana semudah itu. Pendeknya aku tidak punya uang untuk hal-hal lain selain pemenuhan kebutuhan perut. Bukan berpikiran sederhana, tapi kenyataannya memang demikian. Segala sesuatu tidak bisa untuk dipaksakan. Tentunya sesuatu yang dipaksakan akan berakibat buruk. Akhirnya memang ceritanya semakin panjang dan sangat banyak yang harus didengarkan, dipikirkan dan di khayalkan dengan berandai-andai. Seandainya....... dan banyak hal akhirnya disinggung, tetangga kost di sebelah-lah, saudara-sudaranya-lah, entah suami kakaknya, suami temannya sesama arisan di kampung dan pada akhirnya memang banyak yang tak luput dari pembicaraan.. Semuanya kena senggol. Sengol kanan, senggol kiri Dan terjadilah senggol menyenggol cerita selain rumah. Menyenggol perbandingan yang ternyata sesuatu yang kelihatan di luar dari diri kita jauh lebih baik dan sempurna dibandingkan diri kita. Akhirnya aku merasa penuh dengan kekurangan. Dan itu harus dicarikan solusi. Dicarikan pemecahan. Bagaimana harus mewujudkan keinginan itu, tanpa harus melakukan sesuatu yang terpaksa atau terpaksa sekali memang harus diwujudkan. Entah dalam bentuk bagaimana, dengan cara apa. Aku dipaksa untuk benar-benar bersolusi, bagaimana sesungguhnya bersolusi yang benar tanpa mendatangkan suatu resiko. Kupikir aku harus banyak-banyak membaca buku untuk menemukan pemecahannya. Kupikir aku harus banyak-banyak bertanya pada teman untuk memuaskan solusiku tentang rumah.
Aku manggut-manggut, entah mengerti atau tidak. Aku tetap manggut manggut. Sebuah pekerjaan terpaksa yang harus diawali dalam hidup. Mampukah aku? Kembali aku memandang mimik rona wajahnya yang kalem.. Perkataannya memang jujur, sejujur tatapan matanya. Aku ingin jujur kalau kukatakan uang itu, uang untuk sebuah rumah memang sulit terjangkau sebagaimana kejujurannya yang aku inginkan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dari segi ekonomi rumah tangga sebagai tolok ukur utama lewat pengertiannya. Mudah-mudahan istriku mau mengerti dan menyadari keadaan. Lalu aku katakan ini. Juga dengan jujur. Kejujuran yang tidak dibuat-buat, memang demikian adanya dan apa adanya.
”Hanya sebuah rumah kecil? O, gampang sekali, Aku menjawab datar. ”Sebagaimana pula tentang pengertian itu, sebagimana yang kau tahu juga khan?” lebih pelan aku dalam menjawab. Khawatir dia menjadi tersinggung.
Istriku cemberut. Wajahnya berlipat. Keningnya berlipat. Bibirnya dilipat bahkan kalau bisa barangkali mungkin seluruh badannya dia lipat. Barangkali sementara saja. Entah.
Malam kian larut. Binatang-binatang malam mulai ribut bersuara, seakan meributkan sesuatu yang tak berarti. Aku beranjak menuju balai-balai sudut kamar kost yang pengap dengan langit-langit kamar penuh dihuni sarang laba-laba. Mudah-mudahan kepalaku tidak botak memikirkan ini.
Keesokan harinya, kalau aku di kantor, pikiran serasa sibuk dengan persoalan-persoalan tentang rumah. Setiap aku pulang dari kantor, istriku selalu menyambut dengan wajah dingin tanpa ekspresi.Aku tahu dia ingin rumah kecil. Kembali aku meyakinkan pelan-pelan dengan penuh pengertian. Sebab aku suaminya. Suami yang baik adalah sosok yang mampu membimbing dan memberi pengertian yang dalam tentang sesuatu hal. Sesuatu yang perlu dirumuskan bersama untuk mendapat kesepakatan dalam pengertian itu adalah pijakan kebijaksanaan untuk diri sendiri tanpa menyusahkan orang lain, pengertian kebijakan akan hubungan suami-istri yang saling mendambakan kenyaman hidup dalam menghadapi kekurangan-kekurangan. Sebagaimana kenyataan dalam hidup, seperti pertama mengarungi bahtera rumah tangga, seperti awal mula pertama kali aku meminang dia sekaligus memberikan sebuah cerita menarik akan kenyataan hidupku yang sebenarnya nanti bahwa aku dilahirkan sebagai orang miskin dengan hanya berbekal keberanian yang tulus dan sebuah keterus-terangan yang bersifat tolol untuk mempersunting jadi istri, walau tidak terlalu penting seperti kata mertuaku waktu itu.
Seperti itu pula aku gambarkan keadaan yang sesungguhnya, ya seperti sekarang inilah. Mulanya ia cemberut, sekarang ada perubahan sedikit dan ada gejala-gejala diam untuk bersiap-siap berkomentar. Aku tahu sifat istriku. Bicaranya pasti banyak lagi, bahkan akan banyak yang tersentuh dalam ucapannya. Tak satupun akan ada terlewatkan selama bibirnya bisa bersuara. Aku siap-siap menemani dia begadang karena pasti berjam-jam bahkan berhari-hari dia sanggup bicara. Kupikir dulu istriku keturunan seorang dalang, seseorang yang mampu bercerita panjang tanpa henti dan tidak ada batasnya. Ceritanya tidak terbatas. Akupun tidak mau membatasi kata-katanya.
”Apalah artinya sebuah kebahagiaan dengan cita-cita membangun rumah kecil yang pada hakekatnya nanti akan melemparkan pada pemikiran-pemikiran rumit dan sangat begitu memusingkan kepala, suamiku,” jawabnya sambil tertawa cerah ceria.. Entah kebijakan darimana muncul. Entah dimana pemikiran itu muncul dengan kata-kata yang keluar sangat memukau pikiranku. Hari ini istriku bijaksana. Matanya teduh dengan kejujuran apa adanya sebagaimana juga dengan ucapannya yang terlontar.
”Ini keluar dari suara hati yang sesungguhnya, suamiku. Dari dasar hati yang paling dalam.” Dia melanjutkan kata-katanya seperti menangkap keragu-raguan yang terpancar dari mataku. Seperti dia mengetahui arti kesangsianku.
Suatu pagi yang cerah. Tidak ada hujan. Langit bersih dengan awan yang melaju pelan ke arah barat daya. Angin bertiup lembut. Tiba-tiba seorang teman kantor mendekat menyodorkan koran terbitan pagi.
“Nih baca.” Katanya.
“Apanya mesti dibaca? “ Kulihat temanku itu seperti berwajah iseng. Aku tak peduli, apa harus dibaca, berita biasa-biasa seperti sebelumnya. Tidak ada yang menarik. Berita seorang bupati yang tengah dicomot jabatannya oleh KPK penemuan hasil korupsinya ratusan juta. Ah itu sudah biasa. Pejabat kalau tidak memanfaatkan peluang saat memegang posisi penting akan sangat menjadi bodoh oleh keadaan. Setiap pejabat, atau beberapa pejabat tertentu terlebih lagi memliki istri sampingan mesti memerlukan dana tambahan untuk membiayai semua bonus kenikmatan itu. Kapan lagi kalau ndak saat ini memegang posisi penting. Begitu barangkali. Tapi memang harus begitu. Kupikir kalau tidak memanfaatkan setiap peluang dia akan menjadi seorang pejabat yang kikuk bergaul di masyarakat setelah lepas dari jabatan itu. Kalau sampai demikian ingin rasanya aku meminjamkan buku tentang aji mumpung bagaimana cara menggelapkan dana tanpa harus ketahuan. Sangat bodoh kalau sampai sekolah tinggi-tinggi pada akhirnya harus jadi topik berita koran sebagai pejabat korup yang ketahuan. Itu ilmunya belum lihai.Dukunnya yang gagu, barangkali.
”Hei, sudah dibaca?” aku dikagetkan dengan suara temanku.
”Apanya?”
”Koran itu. Beritanya itu lho. Kok malah ngelamun?”
Aku perhatikan salah satu halaman yang ditunjukkan temanku itu. Kulihat ada namaku terpampang disana. Aku baca sub judul berita itu. Ya, itu namaku..Ada Foto Rumah dan namaku tertulis disana sebagai pemenang. Berikutnya ada foto mobil dan sepeda motor dan beberapa nama-nama lain yang tidak aku kenal. Aku tidak percaya. Kubaca sekali lagi. Itu Namaku. Aku memenangkan sebuah rumah mewah. Kubaca lagi’ Kubaca lagi. Kupandang temanku yang sedari tadi tanpa kusadari menatap keherananku dengan perasaan penuh tidak percaya.. Aku harus segera memberi tahu istriku. Aku harus memberikan Koran ini dan akan kubayangkan wajah istriku yang tidak percaya. Aku pasti akan melihat istriku berteriak kegirangan. Aku pasti juga akan berdoa semoga istriku tidak menjadi pingsan dalam kegembiraannya. Ya, aku tahu istriku. Aku tahu dia akan histeris. Dia akan lari ke tetangga-tetangga kost, dia akan berlari keliling halaman kost sambil menunjukkan Koran itu. Koran yang berisi foto rumah dan namaku yang terpampang besar-besar disana sebagai orang yang memenangkan hadiah. Pasti istriku akan memelukku erat-erat dengan penuh kebahagiaan. Pasti dia akan menghadiahkan sebuah ciuman yang sangat mesra. Sebuah ciuman dahsyat yang mungkin tidak pernah aku nikmati selama ini. Sebuah ciuman kebahagiaan pertama sebagai pelampiasan rasa oleh keberuntungan yang tiba-tiba dan diluar dugaan. Dan aku pasti akan gembira mendapatkan hadiah ciuman itu. Ya, aku lari pulang. Aku harus segera sampai di rumah. Sepanjang jalan aku teriak histeris sambil menyanyikan sembarang lagu yang aku hapal. Orang-orang di sepanjang jalan kulihat pada melongo penuh pandangan heran. Penuh tanda tanya. Aku tidak peduli. Aku teriak-teriak. Teriak terus sekeras-kerasnya.
Hei...hei....Sebuah tangan mencuwil bahuku. Aku kibaskan berulang-ulang. Tubuhku terguncang. Aku berusaha menghindar tangan itu. Semakin keras aku rasakan goncangan itu. Aku kaget. Tiba-tiba aku sadar oleh suara tawa yang panjang. Aku buka mata pelan-pelan. Sangat pelan.
”Kamu mimpi apa?”
Kulihat sepasang mata dengan kernyit mengecil oleh tawa panjang tengah menatapku sambil memeluk bahuku .Mata milik ibuku. Aku turun dari tempat tidur sambil mengusap-usap mata menuju kamar mandi. Masih terdengar suara tawa ibuku dari kamar sebelah. Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan angka 9. Aku berkemas untuk berangkat ke kampus. Satu jam terlambat untuk mengikuti mata kuliah.

0 comments:

Posting Komentar

 
7TQ5GW3HXHM7