http://paradeciptakarya.blogspot.com/atom.xml7TQ5GW3HXHM7

Pages

Semilir angin dari dua setapak tetirah lawu ( cemoro kandang & cemoro sewu )

 
berjuta kubik volume kabut
membumbung tebal telikung pagi
bebat gelombang sepi diresonansi elegi

mimik kedinginan lembah biru menyemburat
isyaratkan gigil pada kulit-kulit tangkai edelweis tergurat
jejak kaki pendaki menuruni puncak dumilah mengagungkan lawu nyata tersirat

ingin kurebah dicemoro sewu,

pejamkan sejenak telisik mata
dendangkan desir hijau jawa timur dilereng magetan

&

ingin kuistirah dicemoro kandang
netralkan segala fikiran
menyatu bersama buana alit jawa tengah dipunggung karanganyar


Join 4Shared Now!

NegeriAds.com   Solusi Berpromosi Paling Efektif Mempromosikan Bisnis Anda

NegeriAds.com   Solusi Berpromosi Pilihan?: Siapa yang Tak Kenal

Review   NegeriAds.Com




 

Sekuntum Doa Memekar

 
 
*: Untuk Umi dan Abah
Maafkan ananda jika selama ini ananda belum bisa berbakti dan memenuhi harapan Umi dan Abah

Memekar doa pada bibir mawar mereka
Menyebut satu nama kepada Satu Nama
Hingga hilang segala galau dari sayap waktu
Angin melayangkan mimpi-mimpi terberai

"O, Maha Cahaya, pijarkan nyala api suci rohani-Mu
Sempurnakanlah buah hatiku melayari mata-Mu yang telaga"
Mereka tersedu hingga malam mengecil
Menyudut di rumah hati kecil yang lelap dibuai mimpi

Menyambung dedaun bertasbih
Ke sanalah tarian-tarian surgawi berdansa
Ke sebuah gerbang langit dengan nyala lilin sepi
Membakar diri mereka perlahan
Hingga bias emas rembulan menyepuh pepohonan
Menyinari tangga-tangga doa

Di dinding langit dan tembok malam
Pada persentuhan sunyi yang kudus
Di sana mereka menemui keramaian hati
Lalu terpetik sekuntum cahaya dalam kalbu mewangi
Dan doa-doa kembali bergantungan di reranting dahan malam
"Berpijarlah, wajah yang bulan
Lalu kerling mata yang bintang"


*************************************************************************

Robbirhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
Robbanaghfir lii wa lii waalidayya wa lilmu’miniina yawma yaquumul hisaab
Robbighfir lii wa li waalidayya wa li man dakhola baytiya mu’minan wa lilmu’miniina wal mu’minaati wa laa tazidizh zhoolimiina illa tabaaro

"Salam takzim untuk dua manusia mulia, yang tidurnya tidak pernah sempurna. Doa-doanya menaklukkan malam, yang mengalir lewat sungai air mata. Merekalah yang memperkenalkan Tuhan kepada kami. Menunjukkan salah dan benar. Mengajarkan cinta dan kesetiaan. Mencontohkan semangat dan kesabaran. Tuhan, kiranya cinta terbaik-Mu yang layak mereka dapatkan. Amiiin.." (Saya mencopas-nya dari status indah mas Enton Supriyatna Sind. Terima kasih, mas Enton)

Tegal, 220410 : 17.02
Join 4Shared Now!

NegeriAds.com   Solusi Berpromosi Paling Efektif Mempromosikan Bisnis Anda

NegeriAds.com   Solusi Berpromosi Pilihan?: Siapa yang Tak Kenal

Review   NegeriAds.Com



 

" rasa yang terpendam "

 Serigala Sajak Sh Awi
Untuk anggota JAFUSY ( Jaringan Fundamentalist Sastra BOYOLALI )INDONESIA

air mata menetes dipipi
Aku tau ini tak akan baik-baik saja
setangkai anggrek bulan itu lusuh digenggammu

Sia sia tepis cinta ini padamu
bila tangismu slalu hadir diantara gerimis
selaksa kata sirna
Aku hanya bisa tertunduk

kuatkah aku menjadi saksi semua ini
Ingin mendekap erat
Hanya sekedar tuk menadah tangismu

ku coba terjang kekikukan kata
tuk mencari bah’gia yang hilang
kasih tak terjamah, gerakkan bibirmu
apa yang buatmu membisu?

meski pertemuan hati ini beku
inginku sematkan bah’gia di harimu
tanpa taumu akanku
semati KU

Join 4Shared Now!

NegeriAds.com   Solusi Berpromosi Paling Efektif Mempromosikan Bisnis Anda

NegeriAds.com   Solusi Berpromosi Pilihan?: Siapa yang Tak Kenal

Review   NegeriAds.Com



 

Doa Tiga Gunung

Catatan Jaya Kumara: Doa Tiga Gunung

Tuakilang 15 April 2010

Tiga orang murid saya pergi meninggalkan kelas saat pelajaran belum usai. Masing-masing terbang ke gunung Lawu (Jateng), Bromo (Jatim) dan Lempuyang (Bali). Padahal sayapnya belum cukup kuat untuk mengarungi samudra. Terus terang saja saya mengela nafas panjang sembari menitikan air mata, tanda tak berdaya. Gunung begitu buas dan liar sementara sayap-sayap mereka begitu mungil dengan jiwa yang menantang matahari.
Setiap hari, selama sebulan penuh Dewa Ketut Putra mengirimi saya SMS menghibur. Diawali kata “Om suaabarrrr…..”, “Anjing liar dari Yogya apa kabar…..??” sampai janji untuk ‘melukat’ di Tampaksiring — yang hingga detik ini belum terlaksana juga. Jam datang SMS pun saya hapal: sekitar pk. 11.00 – 14.00 WITA.
Saya menghempaskan diri ke bumi dan mengambil tangga bambu, membentangkan ke angkasa. “Kembalilah ! Baju guru sudah saya bakar. Kini kita bisa duduk sambil menghabiskan teguk cangkir kopi terakhir — sebagai teman”, tulis saya di langit. Hanya sunyi yang menjawab. Sampai akhirnya seseorang diantara mereka menghampiri saya dengan keluh luka. Sayapnya patah.
Lalu saya pun melipat-lipat kertas dan jadilah sayap. Memandang sayap itu dengan cara: menjauh-mendekat dan mengepak-ngepakannya — mengukur keseimbangan. Memang tidak sekuat sayap pemberian ibu tapi bisa digunakan sembari menunggu sayap baru tumbuh. Hhhhmmm…. Lumayan...!!
Kami saling pandang, tersenyum……dan terkekeh: he…he….he….
Pagi belum jua menunaikan tugasnya. Bekas murid saya dengan sayap-kertas sudah hilang. Tak terasa tangan kanan saya secara refleks mengusap sesuatu di kening. Seperti ada bekas sentuhan bibir. Hanya itu.
Saya sempat berbisik pada angin agar memberitahukan pada para bekas murid di tiga gunung untuk singgah ke rumah saya di Tuakilang, Tabanan bila jiwanya tergores. Carilah di sawah atau di tegalan — jangan di kelas (karena baju guru sudah saya bakar). Di sawah ada daun piduh yang bisa mengobati segala luka, termasuk luka santet. Setidaknya itulah kepercayaan sang srigala luka. Jadi, teman-teman sekarang bisa mengerti mengapa selalu tersedia ruang kosong dalam hati saya, karena ada tamu istimewa yang akan datang (ciellee…). Berharap-harap cemas bilamana terdengar kepak sayap — disertai rintihan — mendekat. Siapa tahu tiba-tiba bekas murid saya datang. Siapa tahu pula saya masih bisa membantu.
Saya juga punya kebiasaan baru, yaitu menghidupkan tiga buah dupa setiap pagi: doa kepada tiga gunung. Hangat rapuh irisan doa ….. agar gunung bisa menjadi guru yang baik bagi tiga bekas murid saya ini.
Yang tersisa setelah itu adalah tirai malam yang membuka dan saya masuk ke dalamnya. Datanglah….datanglah……



Jabat tangan erat-erat,



Jayakumara


Join 4Shared Now!

NegeriAds.com Solusi Berpromosi Paling Efektif Mempromosikan Bisnis Anda

NegeriAds.com Solusi Berpromosi Pilihan?: Siapa yang Tak Kenal

Review NegeriAds.Com



Aku Datang Malam Ini

  
 
Aku datang malam ini, Tuhan
Setelah terasing dari rumah, dulu
Seperti merpati patah sayap
Pada sangkar bernama gelap

Aku datang malam ini, Tuhan
Tapi dadaku belum cukup lapang, sayang
Sembunyikan luka galau pada tarian mata
Namun cahaya lilin di goyang, di sudut ruang
Oleh angin sela dinding tua

Aku datang malam ini, Tuhan
Seperti batu membeku, dicengkeram nasib
Pun waktu yang ganas
Sepertinya kiamat tiba menghitung hari

Aku datang malam ini, Tuhan
Telah coba kumengerti
Seperti pernah didamaikan nasib
Tapi dadaku belum cukup lapang, sayang
Hingga hujan menderas, mengepung hari
Membatu seperti rumah tua itu
Menempatkanku mensujudkan diri berkali lagi
Tapi aku belum cukup kata
Dan semua kembali memaksa diterima
Kini dirajam diriku pada kosong
Kesepian dingin pada rumah tanpa langit ini:
Dunia yang jauh di sana
Tinggallah erangan cahaya tengah malam
Selebihnya sunyi dan kiamat memenjara

Tegal, 190410 : 22.35 



 
7TQ5GW3HXHM7